Selasa, 18 November 2008

Kafe IDE

Nama kafe itu singkat. IDE. Cuma tiga huruf. Tercetak di sebuah papan segi empat yang terpasang di depannya. Warnanya merah. Warna papan, kuning.

Sekilas, orang yang melintas tak akan tahu kalau ada kafe di situ. Letaknya di samping kanal kota, Jl Sungai Saddang, Makassar. Ada jalan kecil yang memisahkan antara bangunan kafe dan kanal.

Di sebelah kiri, banguna kafe berbatasan langsung dengan gedung sebuah LSM. Berderet bersama toko serba ada yang buka 24 jam, Hotel Pinang Mas dan sejumlah bangunan ruko.

Pintu masuk Kafe IDE terbilang kecil. Tak sebanding dengan luas ruangan di bagian dalam. Untuk masuk ke dalam harus melalui tiga anak tangga. Melewati meja penyimpanan barang, lalu terus menuju deretan meja-meja kayu segi empat.

Ruangan itu penuh dengan meja kayu berwarna putih. Kursinya, beraneka warna. Di bagian terdalam, ada sofa yang disusun berbentuk huruf U. Pengunjung biasanya lebih senang duduk di situ. Terlebih jika mereka ngin membicarakan hal-hal yang agak penting.

Di sofa itulah, kami: empat orang deklarator, dua orang tim media, lima orang Tim Lima, melakukan diskusi. Biasanya kami bertemu di petang hari. Saat pulang dari kantor masing-masing.

Diskusinya macam-macam. Mulai membicarakan strategi kampanye, mengukur popularitas hingga menganalisis kantung-kantung suara.

bersambung...

Tidak ada komentar: