Ada diskusi, ada kopi. Di atas meja terhidang belasan gelas kopi, kaleng pocari sweat, botol lemon juice dan mangkuk air es. Di antara wadah-wadah minum itu, ada piring-piring yang berisi roti bakar berisi keju pun coklat. Ada Juga kerupuk emping.
Berbungkus rokok menyelip diantaranya. Bermacam-macam mereknya. Mungkin ada lima. Entah kebetulan atau tidak, jumlah jenis rokok itu sama dengan nama tim sukses yang kami buat: Tim Lima.
Tim Lima digagas dari nama sekolah tempat kami menuntut ilmu dulu. Kami semuanya bersekolah di SMU Negeri 5 Makassar. Sebuah sekolah yang terletak di Jl. Taman Makam Pahlawan. Sebelah timur Kota Makassar. Kami tamat 1997.
Sekolah itu sepertinya sengaja menanamkan kesan yang dalam kepada kami. Hingga akhirnya, setelah lebih satu dasawarsa, kami tetap mengingatnya. Mengingatnya hingga ke Kafe IDE. Kafe yang berjarak 10 kilometer dari sekolah kami.
10 TAHUN, 10 KILOMETER, PADA HARI KAMIS, DI KAFE IDE
Kamis sore ini hujan rintik. Kafe IDE sepi. Hanya ada tiga anggota Tim Lima yang sedang bersantai. Master Campaign (MC) Andi Endre, Rudi, Koordinator Tim Media, Akbar dan satu anggota tenaga lapangan. Dia bertugas mengumpulkan suara di wilayah Kecamatan Rappocini.
Saya tidak tahu namanya. Dia dari tadi tak henti menyerocos. Bicara banyak hal. Mulai soal peluang pemilih, biaya yang bakal dikeluarkan hingga soal bengkel. Dia, katanya, butuh modal untuk bikin bengkel.
Rudi cuma diam mendengar pembicaraannya. Dia sepertinya tidak bisa fokus. Saya tahu dari tatapan matanya yang kosong. Si pengumpul suara tetap menyerocos.
bersambung...








